Postingan

Bagian Terbaiknya Adalah Kebosanan

Pernah baca Arthur Harahap? Kalau iya, pasti merasa bahwa hidup ini memang begitu. Kita seperti seorang profesor yang dikutuk raja laut selatan karena menghina seekor blobfish. Dipaksa untuk menghitung bulu domba dan melaporkannya setiap sore. Berusaha membikin formula yang menggampangkan perhitungan tapi sia-sia, sebab kepintarannya terlanjur diambil paksa pihak kerajaan. Dan sayangnya, tak ada kartu 'penghapusan kutukan' di kamus kerajaan laut selatan. Setiap hari menjalani kutukan yang menjemukan, lalu tiba tiba berhenti pada satu kata yang bercetak tebal: TAMAT

Sekolah dan Siswa yang Gagal Mencintai Buku

Salah satu problem yang diderita oleh sebagian besar sekolah di Indonesia adalah gagalnya mereka dalam membuat anak didiknya gemar membaca. Baru saja saya baca keluhan dari seorang wali murid sekaligus penulis favorit saya bahwa ia menyekolahkan anaknya atas dasar harapan maksimal yang bisa ia gantungkan kepada sekolah: menjadikan anaknya pandai menyampaikan sesuatu, berkata tidak kepada hal hal yang tidak disenanginya, memiliki keterampilan dalam mengerjakan sesuatu yang ia senangi, tahu cara membangkitkan diri saat ia melemah, dan lain lain. Namun beliau menyadari bahwa sekolah tidak bisa memenuhi harapan tersebut. Lalu beliau menurunkan harapannya ke tingkat minimal: menjadikan anaknya mencintai buku. Namun ternyata sekolah juga gagal dalam hal ini. Jika terus demikian, maka pupuslah harapan para marhaenis yang memimpikan bahwa sekolah bisa mencetak anak didik berkepedulian tinggi dan mencintai fakir miskin. Jangankan mencintai golongan lemah, membuat anak didik mereka gemar menul...

Mencintai Keturunan Sang Nabi

Kewajiban kita adalah mencintai keturunan Kanjeng Nabi. Tapi apabila keturunan tersebut memperagakan perilaku yang membuat kita sulit mencintainya, apa yang harus kita lakukan? Jangan membencinya. Kenapa? Atas nama kecintaan kita kepada Sang Nabi. Lalu jika kita tidak boleh membencinya, bagaimana mencintainya? Cintai ia dengan cara lain, dengan tidak membenarkan perbuatannya jika ia memang berlaku salah, dengan 'meluruskan'nya sesuai dengan kemampuan yang kita punya. Bukankah mencintai bisa ditempuh dengan banyak cara?

Waktu yang Sempit dan Sedikit

Sebetulnya, sejak kemarin2, berminggu2 kemarin, saya berniat ingin mengisi blog ini dengan apa yang menurut teman pak AS Laksana adalah kebahagiaan yang bisa mendatangkan rezeki. Sayang sekali, rasa kantuk saya ternyata lebih perkasa dan ia menggagahi i'tikad menulis sebelum tidur yang saya canangkan sejak lama. Oleh sebab itu, agar blog ini tidak terkesan tidak terurus, malam ini saya akan berbagi oleh2 sepulang ngaji: Makhluk yang banyak digunakan sandaran bersumpah (muqsam bih) dalam al-Qur'an salah satunya waktu. Misal: [wal-layli idza yaghsya, wan-nahari idza tajalla; wad-dhuha; wal-'ashr; was-shubhi; dsb.]. Mengisyaratkan bahwa manusia harus memperhatikan waktu. Sebagaimana dawuh Imam Ghazali dalam Bidayah al-Hidayah. Yang terjemahan bebasnya kurang lebih: "Waktumu adalah modal utama yang kau belanjakan (pada amal saleh) untuk memperoleh kebahagiaan akhirat. Ia bagai intan permata yang tak ternilai harganya. Maka ketika kau melewatkannya, tak ada yang bisa me...

Mawar Baru

Di antara cecabang ingatan yang rimbun dalam pikiran Mekar mawar baru di atas luka lama yang menganga Aku cemas pada duri di tangkainya yang limbung terpapar angin Cemas bila suatu ketika aromanya menggores luka Seperti bau hujan dan wangi kain pakaianmu yang senantiasa menggiring ingatanku Pada apa yang susah payah kutahan Dan namamu yang dengan malu-malu kusematkan di ujung doaku

Cuaca Hujanmu

Aku gemar menebakmu seperti aku menduga cuaca Senang saja menanti matahari yang terselip di sela mendung Aku tahu bahwa sebetulnya semua awan kelabu hanyalah bentuk lain punggung tanganmu Maka hujan berarti derai telapakmu yang basah membelai tanah Sungaiku adalah anak-anak tanpa muara Tanpa hulu hanya menghimpun hujan Rindu yang bertubi-tubi mengutus tanya . . . . . Ditulis di sela pelajaran. Mengeja kesempatan, seperti menggapaimu di balik tirai-tirai hujan

Merepotkanmu

Aku menaruh cemas di sedekapmu Lenganmu yang lunglai kedinginan Tanpa pernah dapat kuhangatkan Pada gigil gemetar tidur lelapmu Yang tak pernah sanggup kugapai Aku benci merepotkanmu Membuatmu tahu jika aku mencintaimu Tentu akan banyak menumpahkan beban di kedua pundakmu Aku benci menyusahkanmu Memberi tahu padamu bahwa aku selalu merindumu Pasti senantiasa membubuhkan garis hitam di kedua matamu Sebab kelelahanmu ikut menanggung perasaan Maka biar kutanggung sendiri Karena sebenarnya aku paham betul Mencintaimu adalah kesanggupanku Berbicara pada kebisuan Melihat pada kegelapan Mendengar kesunyian Mencium endap aroma malam Maka sekarang berkemaslah, istirahat Barangkali esok kau harus berpagi-pagi menuju harapan Nanti biar aku mengantarmu sambil menitip salam Dan sekotak tangis buat bekal di perjalanan