Pikiran yang resah akan sulit mengurai permasalahan. Bahkan hal-hal sederhana bisa jadi tampak seperti gumpalan benang kusut yang membikin lelah meluruskannya. Tapi sekelebat gagasan ini muncul, dan ia mendesak untuk ditulis.

Tren yang berkembang di tengah masyarakat muslim Indonesia, terutama di kalangan urban, yakni fenomena "hijrah" banyak digaungkan oleh kawula muda. Saya bukan pengamat sosial dan tidak memiliki kecakapan yang memadai untuk menyampaikan mengapa fenomena ini bisa merebak sedemikian luas. Ada beberapa dugaan kasar saya, dan salah satunya berkaitan dengan karakter masyarakat kita, terutama karakter beragama yang cenderung konservatif. Warna konservatif ini semakin naik ke permukaan dan menjadi populer utamanya setelah terjadi kasus yang kental berbau politik.
Oke, saya melantur. Jadi poin yang ingin saya tegaskan di sini adalah pengunaan term "hijrah" bagi tindakan mereka. Tindakan ini, sependek jangkauan pemahaman saya, berbentuk pengalihan total gaya hidup, terutama dari segi penampilan yang semakin "merepresentasikan nilai islam", dan adanya hasrat untuk mendakwahkan cara-cara beragama mereka. Ini tak jadi soal andai mereka tidak serta merta menyalahkan dan memaksakan pandangan beragama mereka pada orang lain. Apalagi jika kemudian yang ber"hijrah" hanyalah penampilan, tapi ternyata sikap-sikap mereka mencerminkan intoleransi.
Melalui Prof. Quraish Shihab, saya memahami bahwa istilah hijrah sebetulnya memiliki arti berpindah ke tempat yang lebih baik. Tentu akan jadi menyenangkan jika masyarakat kita, dalam jumlah masif, bisa berpindah dari kubangan sikap tercela, menuju ke peradaban berbudi luhur, atau dalam bahasa yang lebih islami, berakhlak karimah. Jadi tak hanya sibuk mendandani tampilan saja, sikap dan perilaku juga mesti dibenahi.

Nah, untuk memindahkan perilaku ke sisi terpuji ini, akan jadi hal yang sesulit mengangkat kerbau bunting jika masyarakat tak kunjung bisa meningkatkan kecermatan mereka. Kecermatan ini utamanya dalam hal menyeleksi masukan informasi, seperti memilih mana panutan yang layak diikuti tuntunan beragamanya, atau seperti memilah antara berita dengan fakta yang bisa dipercaya dari sampah-sampah hoaks. Untuk kasus pertama, panutan beragama adalah seorang dokter yang mengobati penyakit spiritual anda. Tentu anda akan memilih dokter yang cocok dengan anda, dan tentu saja ia harus berpengalaman. Kecuali ia punya kecakapan baik, saya yakin dokter yang baru saja menamatkan pendidikan dasarnya tak akan masuk daftar utama pilihan anda, apalagi orang yang hanya menyaru jadi dokter. Untuk kasus kedua, masyarakat yang kurang cermat, akan mudah diperdaya hoaks. Atau dengan kata lain, gemar mengonsumsi hoaks adalah indikator bahwa mereka bukan masyarakat yang cerdas. Orang yang kurang cerdas lebih suka menyelesaikan masalah menggunakan dengkul daripada kepala. Mereka akan menendangi perabotan ketimbang memikirkan penyelesaian masalah.

Komentar