Postingan

Luka 5 Cm

Gambar
Setiap kali mata saya menatap segala sesuatu dari film Byousoku 5 Centimeters, secara otomatis alam bawah sadar saya seolah berteriak, "Cuk! Uwis, Cuk! Aku ora kuat! Aaah!" Lalu seperti gerakan refleks orang kesetrum, mata saya akan memejam atau mengalihkan pandangan. Entah bagaimana prosesnya rasa pedih itu muncul. Dan entah mengapa rasa sakit itu terasa familiar bagi saya. Memang saya hanyalah laki2 menyedihkan yang tidak punya nyali untuk mencari kenalan wanita, tapi adalah fakta bahwa saya tetap manusia. Dan sebagaimana lazimnya manusia lain, saya juga punya hati. Organ ini terkadang dimaknai sebagai sesuatu yang lain, yang tidak kasat mata, yang berkaitan erat dengan emosi dan perasaan, yang rasanya begitu rapuh tapi sanggup menggerakkan kehendak manusia. Dan si keparat Byousoku 5 Centimeters itu meremukkan hati saya. Saya tentu tidak ingin membocorkan seperti apa kisahnya, tapi jika anda ingin menonton, saya menyarankan juga untuk membaca versi manganya. Masing2...
Berilah aku kedamaian Dalam gelas dan piring Dan sendok garpu Jika ayam bisa bertelur Dan manusia pandai berkhutbah Kenapa langit tidak berwarna hijau? Dalam kemabukan kau berdoa, "semoga Tuhan mengampuni kami, dan memberikan tempat yang layak selain akhirat, karena kami tidak merasa pantas pergi ke sana, dan kami merasa iba jika arwah ini..." Lalu sebiji peluru merobek jaringan kulit dan daging dan tulang, menembus tubuhmu dan mengantar nyawamu ke tempat lain.

Sedih Obatnya Harvest Moon

Pukuk 12 malam lewat sedikit waktu lokal Kairo. Saya mencegah mata saya untuk terpejam. Tadi selepas maghrib saya sudah tidur dan rasanya itu cukup. Akhir-akhir ini saya menjadi seonggok manusia kurang produktif yang menghabiskan waktunya bergumul dengan rasa malas. Belum ada buku yang selesai saya baca dalam beberapa bulan terakhir, kebanyakan hanya membaca ulang novel atau kumpulan cerpen dari penulis kesenangan saya. Mengunduh beberapa novel berbahasa asing dan akhirnya memilih untuk membaca terjemahannya, Old Man and the Sea adalah yang terakhir saya baca dan itu belum selesai meski saya memulainya sebulan lalu. Begitu pula proyek penulisan cerpen, tak banyak kemajuan. Draft terakhir saya teronggok menyedihkan dan ia meronta minta digarap segera. Saya sudah kehilangan muka untuk menghadap mentor kami. Di tengah kondisi menyedihkan ini saya sedikit mengalami pencerahan setelah memainkan game lawas yang dulu amat sangat saya gandrungi, Harvest Moon, Friends of Mineral Town (mohon ja...

Sejuta, Datang dan Pulang

Dalam sepaket cinta Selain rindu, ada rasa apa saja?

Menepi, Berintrospeksi

Benarlah peribahasa "kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak". Kita, atau lebih tepatnya saya, sering abai pada kekurangan yang ada pada diri sendiri. Merasa semua yang ada pada diri saya sudah sempurna tanpa menyadari bahwa perilaku dan sikap saya menyusahkan orang lain. Dengan semena-mena saya menghakimi dan menuduh salah pada orang-orang yang tak sepaham dengan saya. Pada saat yang sama saya merasa bahwa keyakinan saya paling benar san saya sudah menjunjung tinggi toleransi. Ini adalah gejala dari penyakit hati yang parah. Maka semestinya saya merasa beruntung saat ada hal-hal yang pahit dan tak diinginkan menghampiri saya. Seolah saya membentur cermin dan dipaksa untuk berkaca, "lihat dirimu sendiri dan carilah kesalahanmu, perbaiki diri dan jadilah orang yang tahu diri". Begitulah cara halus dari Allah menegur hambanya. Beruntung saya tidak dibiarkan berlama-lama berkubang dalam kesalahan untuk kemudian menerima siksa yang pedih.

Bagian Terbaiknya Adalah Kebosanan

Pernah baca Arthur Harahap? Kalau iya, pasti merasa bahwa hidup ini memang begitu. Kita seperti seorang profesor yang dikutuk raja laut selatan karena menghina seekor blobfish. Dipaksa untuk menghitung bulu domba dan melaporkannya setiap sore. Berusaha membikin formula yang menggampangkan perhitungan tapi sia-sia, sebab kepintarannya terlanjur diambil paksa pihak kerajaan. Dan sayangnya, tak ada kartu 'penghapusan kutukan' di kamus kerajaan laut selatan. Setiap hari menjalani kutukan yang menjemukan, lalu tiba tiba berhenti pada satu kata yang bercetak tebal: TAMAT

Sekolah dan Siswa yang Gagal Mencintai Buku

Salah satu problem yang diderita oleh sebagian besar sekolah di Indonesia adalah gagalnya mereka dalam membuat anak didiknya gemar membaca. Baru saja saya baca keluhan dari seorang wali murid sekaligus penulis favorit saya bahwa ia menyekolahkan anaknya atas dasar harapan maksimal yang bisa ia gantungkan kepada sekolah: menjadikan anaknya pandai menyampaikan sesuatu, berkata tidak kepada hal hal yang tidak disenanginya, memiliki keterampilan dalam mengerjakan sesuatu yang ia senangi, tahu cara membangkitkan diri saat ia melemah, dan lain lain. Namun beliau menyadari bahwa sekolah tidak bisa memenuhi harapan tersebut. Lalu beliau menurunkan harapannya ke tingkat minimal: menjadikan anaknya mencintai buku. Namun ternyata sekolah juga gagal dalam hal ini. Jika terus demikian, maka pupuslah harapan para marhaenis yang memimpikan bahwa sekolah bisa mencetak anak didik berkepedulian tinggi dan mencintai fakir miskin. Jangankan mencintai golongan lemah, membuat anak didik mereka gemar menul...