Sedih Obatnya Harvest Moon

Pukuk 12 malam lewat sedikit waktu lokal Kairo. Saya mencegah mata saya untuk terpejam. Tadi selepas maghrib saya sudah tidur dan rasanya itu cukup. Akhir-akhir ini saya menjadi seonggok manusia kurang produktif yang menghabiskan waktunya bergumul dengan rasa malas. Belum ada buku yang selesai saya baca dalam beberapa bulan terakhir, kebanyakan hanya membaca ulang novel atau kumpulan cerpen dari penulis kesenangan saya. Mengunduh beberapa novel berbahasa asing dan akhirnya memilih untuk membaca terjemahannya, Old Man and the Sea adalah yang terakhir saya baca dan itu belum selesai meski saya memulainya sebulan lalu. Begitu pula proyek penulisan cerpen, tak banyak kemajuan. Draft terakhir saya teronggok menyedihkan dan ia meronta minta digarap segera. Saya sudah kehilangan muka untuk menghadap mentor kami.

Di tengah kondisi menyedihkan ini saya sedikit mengalami pencerahan setelah memainkan game lawas yang dulu amat sangat saya gandrungi, Harvest Moon, Friends of Mineral Town (mohon jangan tertawa). Game ini dirilis untuk konsol Gameboy Advance dan belum pernah saya mainkan diluar emulator. Entah bagaimana game ini terasa sangat hidup di benak saya dan ia menghembuskan suasana baru, perasaan yang lebih cerah, pemahaman interaksi yang menarik, dan sebagainya. Ia juga mengajarkan kepada saya berpikir di luar kotak (out of the box -ngasal) untuk mencari trik mengumpulkan duit, dan menghargai waktu dengan sebaik-baiknya. Dan ngomong-ngomong soal waktu, saya rasa cukup segini saja untuk kali ini.

Komentar