Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2017

Bagian Terbaiknya Adalah Kebosanan

Pernah baca Arthur Harahap? Kalau iya, pasti merasa bahwa hidup ini memang begitu. Kita seperti seorang profesor yang dikutuk raja laut selatan karena menghina seekor blobfish. Dipaksa untuk menghitung bulu domba dan melaporkannya setiap sore. Berusaha membikin formula yang menggampangkan perhitungan tapi sia-sia, sebab kepintarannya terlanjur diambil paksa pihak kerajaan. Dan sayangnya, tak ada kartu 'penghapusan kutukan' di kamus kerajaan laut selatan. Setiap hari menjalani kutukan yang menjemukan, lalu tiba tiba berhenti pada satu kata yang bercetak tebal: TAMAT

Sekolah dan Siswa yang Gagal Mencintai Buku

Salah satu problem yang diderita oleh sebagian besar sekolah di Indonesia adalah gagalnya mereka dalam membuat anak didiknya gemar membaca. Baru saja saya baca keluhan dari seorang wali murid sekaligus penulis favorit saya bahwa ia menyekolahkan anaknya atas dasar harapan maksimal yang bisa ia gantungkan kepada sekolah: menjadikan anaknya pandai menyampaikan sesuatu, berkata tidak kepada hal hal yang tidak disenanginya, memiliki keterampilan dalam mengerjakan sesuatu yang ia senangi, tahu cara membangkitkan diri saat ia melemah, dan lain lain. Namun beliau menyadari bahwa sekolah tidak bisa memenuhi harapan tersebut. Lalu beliau menurunkan harapannya ke tingkat minimal: menjadikan anaknya mencintai buku. Namun ternyata sekolah juga gagal dalam hal ini. Jika terus demikian, maka pupuslah harapan para marhaenis yang memimpikan bahwa sekolah bisa mencetak anak didik berkepedulian tinggi dan mencintai fakir miskin. Jangankan mencintai golongan lemah, membuat anak didik mereka gemar menul...

Mencintai Keturunan Sang Nabi

Kewajiban kita adalah mencintai keturunan Kanjeng Nabi. Tapi apabila keturunan tersebut memperagakan perilaku yang membuat kita sulit mencintainya, apa yang harus kita lakukan? Jangan membencinya. Kenapa? Atas nama kecintaan kita kepada Sang Nabi. Lalu jika kita tidak boleh membencinya, bagaimana mencintainya? Cintai ia dengan cara lain, dengan tidak membenarkan perbuatannya jika ia memang berlaku salah, dengan 'meluruskan'nya sesuai dengan kemampuan yang kita punya. Bukankah mencintai bisa ditempuh dengan banyak cara?