Menulis dalam Kesunyian

Jam di gawai android saya menunjukkan pukul 13:32. Hari masih siang dan ada banyak hal yang harus saya kerjakan. Tapi betapapun, rasanya saya tetap harus menerbitkan tulisan ini–betapapun jeleknya–sebab belum tentu nanti malam akan ada waktu yang cukup sebelum kantuk memaksa saya bergegas tidur.
Saya ingin menulis, itu saja. Latar belakang yang kelewat simpel, tapi itu sudah cukup sebagai alasan memulai kebiasaan baru yang bisa jadi aktivitas positif. Beberapa hari belakangan saya membaca ulang esai2 dari penulis kesukaan saya: AS Laksana dan Zen RS, serta berita-berita yang berseliweran di dunia maya. Banyak hal yang akhir2 ini meriuh-risaukan jagat manusia. Di Indonesia, ada kasus gubernur ibukota yang didemo sebab kalimat yang diucapkannya dinilai sebagai penistaan.
Sebenarnya itu kasus yang bagus, terlebih jika anda melihat Bangsa ini sebagai sebuah thriller. Setelah beberapa picuan, akhirnya meledaklah aspirasi jutaan manusia dalam wujud demo, dan buntut kejadian itu bak tentakel, panjang menjelujur kesana-kemari. Saya sampai kelelahan sendiri mengikuti arus berita yang deras menggila. Belum lagi soal pemilu presiden Amerika, komunisme, dan kejahatan2 yang menebar teror.
Di sisi lain, masih banyak tugas kuliah yang harus diselesaikan dan sebagai manusia, saya belum berhasil mengatasi problem perasaan.–Yang terakhir ini baiknya anda abaikan–. Oleh karena itu, saya pada akhirnya memilih mengakrabi kesunyian dan menulis apa saja sebagai langkah produktif seorang pemuda. Oke, ini sungguh mengada-ada.
Tapi di luar semua itu, ada beberapa inspirasi yang menyambar kepala saya dari esai "Darkness, My Old Friend" saat Pak AS Laksana mengutip saran dari email yang dikirim temannya. Saya tulis sebagian:
"...Setiap hari dia mencatat satu halaman saja. Hari Senin, dia menyampaikan dalam catatannya itu rasa terima kasih atas tiga hal baik dalam hidup. Hari Selasa, dia mencatat satu pengalaman dari masa lalu yang sangat menyenangkan. Hari Rabu, dia menuliskan masa depan atau hal terbaik yang bisa dia bayangkan tentang dirinya. Hari Kamis, dia mengingat dan mendeskripsikan seseorang yang dianggapnya penting dalam kehidupannya. Hari Jumat, dia mengingat-ingat pengalamannya selama satu minggu dan memilih mencatat tiga hal baik yang dialaminya..."
Ini memberi saya gambaran tentang bagaimana memperoleh kebahagiaan dengan mensyukuri nikmat akal fikiran untuk menulis, merencanakan dan mengingat kebaikan2 hidup kita.
Selain itu saya baru membaca terjemahan dari karya Syekh Mutawalli asy-Sya'rawi tentang aneka alegori yang beliau tawarkan sebagai mimesis nilai2 spiritual kemanusian dalam bentuk "gua-gua metafisik" dari Surah al-Kahfi.
Dan dari itu semua saya memperoleh gambaran tentang metafora kesunyian sebagai "gua" yang sejak dulu diakrabi oleh para pertapa, yogi, empu, pujangga, pejuang, pahlawan, penulis, dsbg. sebelum mereka menetaskan karya2 luhur. Bahkan Rasulullah pun menyepi ke Gua Hira' sebelum menerima wahyu pertama. Sebenarnya itu hanya alasan yang saya buat-buat karena saya sudah terlampau letih melihat diri saya larut dalam hiruk-pikuk. Intinya: selamat mengakrabi kehening-sunyian. Salam

Komentar